Wawancara Khusus

Program Ketahanan Pangan Terus Dioptimalkan

wwc khusus.jpg

Program ketahanan pangan terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di pasaran. Dengan cara ini, diharapkan laju inflasi juga bisa dikendalikan.

Tak hanya itu, program ketahanan pangan juga memberikan aksesibilitas bagi seluruh masyarakat untuk menikmati panganan berkualitas sesuai kebutuhan dengan dengan harga terjangkau. 

Lalu, seperti apa program tersebut dijalankan? Serta bagaimana mekanismenya? Berikut wawancara khusus yang dilakukan kru Beritajakarta.com, Budhi Firmansyah Surapati dengan Kepala Biro Perekonomian DKI Jakarta, Sri Haryati belum lama ini.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus menggencarkan program ketahanan pangan. Salah satunya menggelar kegiatan pasar murah. Apa targetnya?

Itu salah upaya Pemprov DKI dalam menjaga stabilisasi harga pangan, jadi inflasi bisa kita kendalikan.

Sejak setahun belakangan, apa yang sudah dicapai?

Laporan dari BI, belakangan ini inflasi kita tergolong bagus. Bulan Oktober ini inflasi hanya 0,18 persen, lebih rendah dari capaian nasional yakni 0,22 persen.

Perkembangan laju inflasi kita dari awal tahun 2016 juga cuma 1,6 persen, padahal lima tahun sebelumnya di kisaran 4,03 persen.

Harga kebutuhan pokok di pasaran terutama beras, sangat bagus. Berarti upaya Pemprov DKI menjaga stabilitas harga mulai terlihat. Tapi kami akan terus menerus melakukan upaya agar lebih baik lagi.

Upaya lanjutannya seperti apa?

Yang utama bicara stabilisasi pangan, kami ingin aksesibilitas masyarakat lebih mudah mendapat pangan dengan kualitas dan kuantitas baik, sesuai kebutuhan dengan harga terjangkau.

Program andalan di Februari 2017 mudah-mudahan sudah ada pusat perkulakan di Pasar Induk Kramat Jati. Konsepnya, kami akan siapkan sembako dengan harga murah di situ.

Kenapa bisa dapat harga rendah? Karena kita beli partai banyak, kita langsung ke  daerah penghasil, ke peternakannya, petaninya. Tujuan kami untuk mempersingkat distribusi. Selama ini harga tinggi karena jalur distribusinya terlalu panjang, makanya akan kami pangkas.

Yang bisa mengakses pusat perkulakan itu siapa saja?

Utamanya untuk pedagang di 153 pasar di bawah pengelolaan PD Pasar Jaya. Jadi tidak untuk konsumen, tapi pedagang ya.

Katakanlah dulu pedagang beli di tengkulak, nanti kami tawarkan ada produk yang baik dengan harga rendah. Kiami siapkan kartu, bayarnya nanti cash less. Ke depan kami gunakan kartu Jakarta One, nanti kita umumkan.

Pedagang juga akan diberi kemudahan dengan bantuan kredit dari Bank DKI agar dia bisa mengembangkan usahanya.

Tidak hanya di Kramat Jati, rencananya lima wilayah juga akan ada agen seperti perkulakan. Kami berharap semakin banyak lokasi, semakin banyak yang terlibat penjualan dengan harga yang bagus. Jadi kita semakin mampu mengendalikan harga di pasaran.

Untuk pasokan siapa yang bertanggung jawab?

Kami punya sinergitas antar BUMD. Misal, untuk pasokan produk pangan asal hewan yang memasok Dharma Jaya. Untuk Food Station, mereka punya gula minyak dan beras. Bahkan Food Station sudah pakai merek FS, punya kemasan packing sendiri dan sudah distribusikan ke operasi pasar, rusun, kelurahan, pasar-pasar bahkan masuk pasar modern.

Produk yang ditawarkan sama dengan harga pasaran?

Kami akan sesuaikan dengan harga pasar. Kami akan cari harga rendah. Kami akan melihat pasaran, selama ini kan pedagang ambil dari tengkulak, cuma kadang-kadang di tengkulak harganya bisa dipermainkan.

Apakah pedagang mendukung rencana tersebut?

Kalau pedagang kan prinsipnya, asal ada kualitas bagus harga murah ya dia akan lari ke situ. Kami juga sudah sosialisasi ke mereka dan responsnya bagus.

?