
Kekhawatiran tingginya angka golongan putih (golput) pada Pilgub DKI Jakarta hari ini, ternyata tidak terbukti. Banyaknya calon yang bertarung memperebutkan kursi sebagai pemimpin ibu kota, cukup diapresiasi warga DKI Jakarta sehingga membuat angka golput kali ini hanya sebesar 30 persen.
Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) menilai pilgub kali ini golput lebih rendah dibandingkan dengan pemilu presiden sebelumnya. Berdasarkan hasil quick count yang dilakukan dengan sampel di 440 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ada di Jakarta, Puskaptis mencatat angka golput hanya mencapai 30 persen. Ini karena kandidat yang maju lebih banyak dan mewakili berbagai profesi.
"Turunnya jumlah golput karena para kandidat mewakili semua profesi, jadi lebih bervariasi," kata Husin Yazid, Direktur Eksekutif Puskaptis, Rabu (11/7).
Husin menambahkan, golput tersebar di berbagai usia, baik yang pemula maupun yang sudah berumur. Wilayah Jakarta Selatan merupakan daerah yang cukup banyak golput, karena tingkat ekonominya tinggi. Sementara partisipasi tinggi dari pemilih berada di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat.
Ia menyebutkan rendahnya golput ini juga dikarenakan masyarakat menginginkan perubahan, baik dari figur maupun program kerja, seperti penanganan banjir dan macet yang menjadi problematika Jakarta. "Calonnya ada enam sebarannya merata. Namun kali ini adalah perang figur," ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan quick count yang dilakukan Puskaptis pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) unggul dengan perolehan suara 42,64 persen, disusul pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan 34,33 persen.
Menurutnya, semakin tinggi partisipasi pemilih, peluang adanya dua putaran semakin tinggi. Terlebih, saat ini, jumlah golput juga menurun.



© 2012 BeritaJakarta.com — Website Berita Resmi Pemprov DKI Jakarta