Kenaikan Harga Bahan Makanan Picu Inflasi2/7/2012 18:48 WIB
Naiknya sejumlah harga bahan makanan di Jakarta memicu terjadinya inflasi pada Juni 2012. Tercatat, indeks harga konsumen pada kelompok bahan makanan saat ini mencapai 159,04. Angka tersebut naik 0,93 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat hanya 157,58. Kelompok pengeluaran ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,17 persen. Sedangkan nilai inflasi secara keseluruhan di DKI mencapai 0,38 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta, Nyoto Widodo mengatakan, komoditi yang memberikan sumbangan inflasi tertinggi dari kelompok bahan makanan adalai cabai merah, sebesar 0,0595 persen. Menyusul kemudian daging ayam ras sebesar 0,0367 persen dan bawang putih sebesar 0,0354 persen.
Widodo menyebut, sedikitnya ada 11 sub kelompok yang terdapat dalam kelompok bahan makanan sebagai pemicu inflasi. Tujuh di antaranya mengalami kenaikan indeks. Masing-masing adalah, kelompok bumbu-bumbuan sebesar 8,29 persen, sub kelompok daging 2,01 persen dan sub kelompok kacang-kacangan 1,07 persen. Kemudian sub kelompok telur, susu dan hasil olahannya meningkat 0,87 persen, sub kelompok buah-buahan 0,50 persen. Selanjutnya sub kelompok ikan segar meningkat 0,24 persen dan sub kelompok ikan diawetkan 0,18 persen.
Berikutnya adalah, empat sub kelompok lainnya mengalami deflasi. Yakni sub kelompok sayur-sayuran, lemak dan minyak, padi-padian serta sub kelompok bahan makanan lainnya. "Selain kelompok bahan makanan, kelompok lainnya juga mengalami kenaikan indeks. Yaitu kelompok sandang 0,55 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebanyak 0,50 persen," ujarnya, Senin (2/7).
Khusus untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami kenaikan hingga 0,15 persen. Inflasi kelompok kesehatan terjadi 0,08 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03 persen. Sedangkan, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,02 persen.
Beberapa komoditi yang memberikan sumbangan inflasi paling besar adalah bahan bakar rumah tangga, yaitu sebanyak 0,0988 persen. Kenaikan ini dipicu kelangkaan bahan bakar gas untuk rumah tangga. Terutama gas dengan kapasitas 3 kilogram yang terjadi pada bulan Mei-Juni. Dampaknya, harga gas juga mengalami kenaikan dan berkontribusi pada peningkatan indeks.
Widodo juga menyebutkan, upah pembantu rumah tangga (PRT) ternyata juga menyumbang inflasi cukup besar, yaitu 0,0134 persen. Jauh di atas kenaikan harga sewa rumah yang biasanya menyumbang inflasi cukup besar. Namun inflasi dari upah PRT ini bersifat musiman. Sebab, bulan Juni berdekatan dengan Ramadhan dan Idul Fitri. Sehingga kebutuhan dan permintaan terhadap PRT meningkat.
"Dari 66 kota di Indonesia yang diteliti BPS, ternyata seluruhnya mengalami inflasi. Dari hasil penelitian tersebut DKI Jakarta berada di urutan ke 56," tukas Widodo.
Reporter : nurito | Editor : dunih
Terkait
Kanal Lainnya