Beritajakarta.com
TMII Gelar Kirab Muharam
8/12/2010 16:38 WIB

Image UnavailableSelamatan dan kirab agung suro untuk menyambut Tahun Baru Muharam, telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, khusunya Jawa. Kali ini kirab dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Kirab didahului dengan penyerahan bungkusan kain putih berisi tanah dan air, sebagai lambang bumi dan kecintaan raja terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh pemimpin kirab kepada perwakilan TMII. Lalu juga dihadirkan dua pasang kerbau bule bernama Welas dan Asih dari Keraton Surakarta, untuk ikut dalam kirab.

Kirab di TMII dilangsungkan Selasa (7/12), sore. Ribuan pengunjung terlihat hadir, mereka tampak antusias ketika tiba acara berebut tumpeng yang sebelumnya diarak dalam kegiatan tersebut. Dalam hitungan detik, sebanyak 3 gunungan tumpeng yang awalnya berjajar rapi dengan hiasan cantik, berantakan diperebutkan warga. Gunungan tumpeng yang menjadi rebutan sengaja didatangkkan panitia dari Kraton Surakarta, dan Yogyakarta.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan pusaka majapahit berupa tombak kepada perwakilan TMII. Kemudian acara diakhiri dengan aksi bersih jalan yang dilalui peserta kirap Agung Suro oleh dua pasang muda-mudi dengan pakaian adat Jawa.

Budayawan Jawa, R Damar Sasmito mengatakan, ritual Suro dianggap sakral karena memberi pesan agar manusia melakukan intropeksi dan selalu mendekatkan diri kepada tuhan. "Ritual ini telah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Jawa," katanya.

Asisten Manajer Komunikasi dan Promosi TMII, Tomo Gunawan mengungkapkan, selamatan dan kirab Agung Suro ini merupakan bagian dari Pekan Suro yang digelar TMII pada 5-12 Desember 2010. Menurutnya sejarah ritual Suro dimulai sejak zaman Sultan Agung pada tahun saka 78 dimana 1 Suro dimulai pada satu Muharram 1043 Hijiriah.

Malam 1 Suro diperingati dalam rangka menyambut Tahun Baru 1 Muharam 1431 H. Tahun Baru Muharam adalah perpaduan antara tahun baru Saka yang disatukan dengan tahun baru Hijriah sejak zaman Sultan Agung. "Diharapkan dengan adanya ritual perayaan 1 Suro ini dapat mempersatukan NKRI," ujarnya.

Kesatuan atau kebersamaan terlihat dalam perayaan malam 1 Suro saat ini, dimana pembacaan doa dilakukan secara lintas agama, dengan 6 agama serta para penganut ilmu kebatinan. "Dari enam agama dan kepercayaan secara bersama itulah menandai kerukunan beragama di Indonesia, dan sekaligus untuk memohon petunjuk kepada Tuhan agar diberikan yang terbaik bagi Indonesia," tandasnya.

Reporter : didit | Editor : purwoko


Terkait
Share Artikel: |
Back
Kanal Lainnya
Warga Bicara Dari Meja Gubernur
Jakarte Punye Cerite Surat Warga
Lenggang Jakarta Saran Anda
Wisata dan Kuliner Jajak Pendapat
Lintas Kota Telp. Penting