Hemat Air, Masjid Dilengkapi Lubang Resapan Biopori

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Barat Eman Sukerman mengimbau kepada pengelola masjid, mushollah, dan sekolah agar membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) dan empang (kolam tanah-red) sebagai penampungan air, agar buangan air dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Kita harus berpikir jauh kedepan, jangan sampai air terus diekspoitasi sehingga air terbuang percuma. Air bekas wudhu itu masih sangat bagus dan masih bisa dimanfaatkan," kata Eman Suherman, Jakarta Barat, Senin (18/2).
Menurutnya, selama ini bekas air yang mengucur dari kran air bekas berwudhu dialirkan atau dibuang begitu saja melalui saluran air atau got yang bercampur dengan air lainnya. Padahal, air bekas wudhu itu masih bisa dimanfaatkan kembali seperti untuk menyiram taman, dan diresapkan ke dalam tanah sebagai air cadangan.
"Alangkah bijaknya apabila di sepanjang saluran air itu dibuatkan LRB sehingga air tidak terbuang percuma," kata Eman. "Lebih baik lagi selain dibuatkan lubang biopori juga dibuat bak atau empang sebagai tempat penampungan air," katanya.
Ke depan, kata Eman, mungkin di masjid atau musholla akan kesulitan mendapatkan air bersih karena air tanah semakin kering. "Kalau di Jakarta Barat ada ratusan masjid dan musholla membuat LRB atau bak penampungan air maka ratusan meter kubik air sisa buangan air wudhu dapat diselamatkan dan tidak terbuang percuma,” ucapnya.
Selain itu, lanjut Eman, untuk lebih mengoptimalkan manfaat air bekas air wudhu di musholla atau masjid akan lebih bijak apabila dipilih kran air yang tidak terlalu banyak mengeluarkan air. "Kita perlu melakukan asas hemat air. Agama juga mengajarkan agar kita tidak boros," kata Eman.
Pihaknya, imbuh Eman, juga sudah melakukan koordinasi dengan Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas) Pemkot Jakarta Barat untuk merealisasikan program pembuatan lubang biopori di masjid dan musholla tersebut. "Kami siap memberikan petunjuk teknis pembuatan lubang biopori itu," ujarnya.
Lebih lanjut Eman menuturkan, saat musim hujan seperti sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk membuat lubang biopori itu, karena masih banyak air yang mengalir dan bisa diresap melalui lubang biopori. "Kalau sudah musim kemarau, tidak ada lagi air yang mengalir dan bisa diresap oleh tanah," jelasnya.
Dia menambahkan, manfaat lubang biopori untuk meningkatkan laju peresapan air hujan kedalam tanah sehingga tidak terbuang percuma mengalir kepermukaan yang dapat menyebabkan banjir dimusim hujan dan kekeringan dimusim kemarau. Selain itu juga menghindari terjadinya genangan air yang menyebabkan merebaknya penyakit DBD.
Eman mengatakan di sekitar halaman kantor Walikota Jakarta Barat sejak dicanangkan oleh Wali Kota Fadjar Panjaitan beberapa bulan lalu kini sudah dibuat sebanyak 105 lubang biopori.
“Kita juga sudah berkoordinasi dengan Sudin Dikmenti dan Dikdas Jakarta Barat untuk meresalisasikan pembuatan LRB di lingkungan sekolah. Kami sudah melakukan sosialisasi tentang lubang resapan biopori di sejumlah SMA Negeri di Jakarta Barat," ujarnya.
Selain itu, ujar Eman, pihaknya juga tengah melakukan koordinasi dengan para camat dan lurah untuk menindak lanjuti program LRB yang sangat bermanfaat itu. "Kami berharap masyarakat juga peduli terhadap masalah lingkungan hidup untuk memanfaatkan air seoptimal mungkin," tukasnya.
Penulis: udin
Sumber: udin