Lagi, Aksi Kekerasan Terjadi di Sekolah
Belum hilang dari ingatan kasus kekerasan yang menimpa Muhammad Fadil Harkaputra Sirath, siswa 1 SMA 34, Pondoklabu, Jakarta Selatan, kini kasus kekerasan di kalangan pelajar kembali terjadi. Kali ini yang menjadi korban yakni Ernayanti (9), siswa Kelas 3 SDN 07 Pagi Batuampar, Kramatjati, Jakarta Timur.
Korban disiksa teman sekelasnya dengan cara dicubit di sekujur tubuhnya. Akibatnya korban mengalami luka lebam dan tidak masuk sekolah selama tiga hari lantaran trauma. Ironisnya, aksi kejam itu dilakukan para murid atas perintah dari wali kelas yang bernama Tiarmaida. Sejauh ini pihak orangtua murid, belum melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.
Menurut korban, kejadiannya bermula saat ia bersama rekannya bernama Karlina (9), pada Hari Selasa (12/11)
sekitar pukul 09.30 WIB, tengah bergurau. Sayangnya gurauan mereka dilakukan di atas meja kelas. “Saat itu saya habis istirahat karena telah mengikuti pelajaran olahraga,” ujarnya, Jumat (16/11).
“Sebelum jam pelajaran dimulai, saya bercanda dengan teman,” lanjutnya. Nampaknya aksi mereka itu diketahui oleh rekan lainnya yang diduga sebagai “pemilik” meja tersebut.
Selanjutnya, rekan yang belum diketahui identitasnya itu mengadukan aksi korban bersama Karlina ke wali kelas
mereka.Tak lama kemudian, wali kelas itu menghampiri mereka yang masih asyik bercanda di atas meja. Korban sudah dilerai oleh wali kelas tersebut namun entah mengapa, mereka tak mau turun dari mejanya.
Karena kesal maka wali kelas tadi memerintahkan murid yang ada di kelas 3 tersebut untuk mencubit korban. Tindakan tersebut sebagai bentuk hukuman terhadap murid yang dianggap nakal.
Rupanya aksi itu terus berkelanjutan walau sang korban telah mengerang kesakitan dan teriak minta ampun. Aksi cubit massal itu baru berhenti ketika korban menjerit histeris. Dari kejadian tersebut, anak kedua dari tiga bersaudara itu mengalami luka lebam di sekujur tubuhnya.
Sementara, orangtua korban Ujang Supandi (45) dan Ny Wati (32), warga Jl SMP 126 RT 02 RW 03, Batu Ampar Kramat Jati, tidak mampu berbuat banyak. Ayah korban yang hari-harinya bekerja sebagai pemulung ini hanya bisa pasrah. Karena penghasilan Ujang Supandi sebagai pemulung tidak pasti, dirinya tidak membawa anaknya berobat ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Korban hanya diberi obat tradisional dengan cara dipijat dengan menggunakan balsam.
“Bagaimana mau berobat, wong untuk amankan saja kita masih susah. Ya akhirnya anak saya cuma pijat pakai balsam,” ujar Ujang, warga kelahiran Subang, Jawa Barat itu.
Menurut Ujang, akibat kejadian tersebut, Ernayanti mengalami trauma berat dan tidak berani lagi untuk bersekolah. Terhitung sejak kejadian pada Selasa lalu hingga Jumat ini, korban sudah tidak masuk kelas.
Selanjutnya, Ujang meminta pada pihak sekolah agar segera meminta maaf pada keluargnya, terutama pada sang korban. Ia sendiri belum melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Sementara, Kepala Sekolah SDN 07 Batuampar, ketika dikonfirmasi tidak ada di tempat. Namun menurut seorang guru yang bernama Haryanti, pihaknya membenarkan adanya kejadian tersebut. “Betul ada kejadian itu dan memang sebelumnya korban sudah diingatkan tapi masih saja berdiri di atas meja,” ujar guru tersebut.
Menurut Haryanti, dari kasus tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan wali kelas yang bersangkutan serta dengan pihak kepala sekolah.
Sementara Zaenal Soleman, Kasudin Dikdas Kodya Jakarta Timur dan Sylviana Murni, Kepala Dinas Dikdas Provinsi DKI Jakarta tidak dapat dikonfirmasi karena telepon selulernya mereka tidak aktif.
Penulis: nurito
Sumber: nurito