Home

Getek, Alat Transportasi “Jadul” yang Tetap Diminati


BERITAJAKARTA.COM — 18-01-2010 12:01
Air yang tenang, tiba-tiba beriak perlahan. Sebuah perahu kayu dengan ukuran 2x4 meter melintas menyeberangi sungai selebar kurang lebih 10 meter. Remaja berusia 15 tahun sibuk menarik sebuah tali kabel yang dikaitkan antar pohon pada ujung tepian sungai. Tali itu berfungsi sebagai penarik perahu kayu untuk mencapai ke tepian.

Begitulah kesibukan alat transportasi zaman dahulu (jadul) bernama getek di Kali Item atau tepat di Jalan Kartini Raya, Sawah Besar, Jakarta Pusat, atau ada juga yang berada di sisi Jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Meskipun getek terbilang jadul, bukan berarti peminat alat transportasi yang berfungsi mengantarkan orang dari satu daerah ke daerah lain itu, telah ditinggalkan konsumennya.

Terbukti, meski dari segi jumlah penumpangnya tidak sebanyak di era keemasannya dulu antara tahun 70 hingga tahun 80-an, namun peminat getek tetap setia menumpangi alat penyeberangan kayu bertarif seikhlasnya tersebut.
   
“Geteknya ditarik secara manual, Mas. Yang penting bisa buat nolong orang menyeberang. Soal bayaran, yang penting seikhlasnya aja,” ujar Nursin (15) penarik getek generasi ketiga di Kali Item.

Nursin menuturkan, getek miliknya saat ini merupakan sarana alternatif sebagian orang yang bermukin di Jalan Kartini, Sawahbesar, Jakarta Pusat yang berfungsi sebagai alat penyeberangan. Walau kesannya tradisional, tapi tak dipungkiri keberadaan getek sangat membantu warga sekitar dalam mengarungi sungai yang tak berjembatan.

Di kali Item atau tepatnya di sisi Jalan Raya Gunung Sahari, Sawahbesar, Jakarta Pusat, jasa penyeberangan dengan menggunakan getek sudah dilakukan sejak tahun 2005 silam. Awalnya ada lima penarik getek di kali ini, tapi sekarang hanya tiga buah getek dengan jarak masing-masing 100 meter. Mereka mulai beroperasi mulai Subuh hingga menjelang Maghrib.

Nursin merupakan generasi ke tiga setelah menggantikan ayahnya, Mian (45) dan penarik awal yang bernama Babe Asmat. Dirinya mengaku tidak mematok tarif sekali penyeberangan sehingga wajar saja bila ada penumpangnya yang terkadang hanya membayar Rp 500 atau tidak membayar sekalipun, karena baginya yang terpenting nilai keikhlasan membantu sesama adalah segalanya.

“Kita tidak tuntut penumpang harus bayar berapa. Tapi rata-rata mereka kasih Rp 500 atau Rp 1.000 dan langsung ditaruh di kotak kayu yang disediakan,” jelasnya.

Menurut Nursin banyak suka duka dialaminya sebagai penarik getek. Sebagai perahu yang dibuat dengan perhitungan seadanya, tak jarang getek tak kuat jika ada angin atau arus yang kencang. Karena itu, mengalami perahu terbalik pun sudah pernah dialaminya bersama ayahnya. “Pernah ada pengalaman terbalik. Kondisi air yang tak tenang, membuat perahu getek jadi terbalik. Untung saja tidak ada penumpang,” kenangnya.

Berprofesi sebagai penarik getek di Jakarta merupakan sekelumit profesi unik yang dijalani oleh sedikit masyarakat yang tinggal di ibu kota saat ini. Zaman boleh berganti dengan modernisasi dan penerapan teknologi tinggi. Namun, keberadaa getek tetap menjadi idola bagi masyarakat yang sulit tergantikan dengan keberadaan jembatan sekalipun.
  
 

Reporter: didit


Foto   Video   Audio
Tidak ada foto
 
Tidak ada video
 
Tidak ada audio


 Video Terbaru Lainnya  
08-09-2010
H-2 Ribuan Motor Tinggalkan Kota Jakarta
08-09-2010
Polres Jakbar Ringkus 7 Orang Sindikat Narkoba Internasional
08-09-2010
Idul Fitri Membawa Berkah Bagi Pedagang Kulit Ketupat

 Potret Jakarta Lainnya  
Pemasangan Pipa Bawah Sungai

 
Lihat Jadwal
 
BeritaJakarta.com — Media Online Pemprov DKI Jakarta
Jl. Merdeka Selatan 8-9 Blok F Lt. 2 Jakarta Indonesia Telp. +62 21 3822988, 3822488; Fax. +62 21 3822788, 3822846; Email : redaksi@beritajakarta.com